Petasulut.com, MINUT – Para penambang diminta untuk melakukan pengelolaan emas yang ramah lingkungan dan menjadi hal wajib untuk digunakan.
Sebelumnya penggunaan bahan kimia merkuri dirasa sangat efektif menurut penambang dengan skala kecil karena dianggap lebih murah, cepat, dan mudah.
Namun dampak dari mercuri sangat tidak baik bagi lingkungan dan kesehatan, untuk itu pemerintah pusat melalui kementerian lingkungan dan ESDM melakukan berbagai kegiatan, meliputi penguatan peraturan, kebijakan dan kelembagaan nasional, serta pembangunan fasilitas pengolahan emas tanpa merkuri.
Mengenai hal itu, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) terpilih sebagai satu dari enam daerah di Indonesia sebagai pilot project proyek GOLD-ISMIA atau Global Opportunities for Long-term Development of Artisanal Small-scale Gold Mining (ASGM) Sector, Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia’s ASGM.
Pembahasan terkait proyek ini dilakukan tim pusat bersama Bupati Minut Joune Ganda, di Grand Kawanua Convention Center (GKCC) Manado, Selasa (25/1/2022)
“Wilayah kabupaten Minahasa Utara memiliki banyak potensi yang mendukung perekonomian, salah satunya berasal dari aspek pertambangan. Mewakili masyarakat Minahasa Utara, saya bersyukur dan mengucapkan terima kasih karena Kabupaten kami boleh menjadi pilot project GOLD-ISMIA,” ungkap Bupati Joune Ganda.
Selanjutnya dikatakan Bupati Joune Ganda, Pemkab Minut akan terus mendukung kegiatan dari proyek ini, termasuk rencana pembangunan alat pengolahan emas (fix plan) yang bebas merkuri, dan ramah lingkungan.
“Semoga menghasilkan sesuatu yang dapat membantu kita, mencapai tujuan dan kepentingan bersama demi mewujudkan Indonesia bebas merkuri 2025,” tukasnya
Turut hadir pada kesempatan tersebut, Tenaga Ahli Utama Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi BRIN Yudi Antasena, Kepala Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral BRIN Rudi Nugroho, Tenaga Ahli Mentri Bidang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) dan Riset Lingkungan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Henri Bastaman, Senior Program Manager UNDP Anton Sri Probianto, Ahli Utama Pengendali Dampak Lingkungan KLHK Muhammat Yunus, Kepala Subdit Penghapusan B3 Direktorat PB3 KLHK Upik Siti Aslia, National Projek Manager GOLD-ISMIA Baiq Dewi Krisnayanti, Ahli Media Dampak Lingkungan KLHK Grace Juanita Romauli Siregar, dan Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Media Aisya Safey.
Dan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Bapeda Provinsi Sulut, GOLD-ISMIA Focal Point Dinas Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulut dan Tim PMU Proyek GOLD-ISMIA.
Proyek GOLD-ISMIA diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan didukung United Nations Development Programme (UNDP), yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan penggunaan merkuri di sektor penambangan emas skala kecil (PESK).
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah peralatan pengolahan emas bebas merkuri yang berskala perorangan bernama micro leaching tank (tangki perendaman mikro).
Tangki perendaman mikro menggunakan sianida sebagai pengganti merkuri.
Menurut hasil penelitian, Sianida juga merupakan senyawa berbahaya, namun tingkat keracunan sianida bisa dikurangi dengan melakukan pengolahan limbah yang baik dan benar dimana unsur senyawa C yaitu Carbon yang dapat terdegradasi dan menguap secara alami, dan senyawa N yaitu Nitrogen berguna bagi tumbuhan nantinya.
(ABL)










