Minahasa Utara Jadi Pelopor Kerja Sama Genetika Babi Indonesia–Denmark, Joune Ganda: Tonggak Baru Modernisasi Peternakan Nasional

 

Petasulut.com, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) kembali menorehkan capaian strategis di sektor peternakan dengan menjadi daerah pertama di Indonesia yang menjalin kerja sama internasional di bidang genetika babi melalui Indonesia–Denmark Swine Genetics Partnership. Kemitraan ini menjadi tonggak penting dalam upaya modernisasi industri peternakan nasional melalui pemanfaatan teknologi genetika unggul dan investasi berorientasi jangka panjang.

Peresmian kerja sama tersebut berlangsung di The Dharmawangsa Jakarta, Kebayoran Baru, Selasa (14/7/2026), dan dihadiri langsung oleh Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune J.E. Ganda, S.E., M.A.P., M.M., M.Si.

Kolaborasi ini diprakarsai oleh PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW) bersama DanBred, perusahaan genetika babi terkemuka asal Denmark yang dikenal secara global sebagai pengembang bibit babi unggul dengan produktivitas tinggi.

Kerja sama tersebut menandai dimulainya babak baru bagi industri peternakan Indonesia, karena menghadirkan kembali impor bibit babi unggul dari Denmark setelah vakum selama beberapa dekade. Kehadiran genetika unggul ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha peternakan, sekaligus memperkuat daya saing sektor peternakan nasional.

Dipilihnya Kabupaten Minahasa Utara sebagai daerah pertama dalam implementasi kemitraan internasional tersebut dinilai bukan tanpa alasan. Minahasa Utara selama ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan babi di Sulawesi Utara dengan potensi pengembangan yang besar, didukung ketersediaan lahan, sumber daya manusia, serta iklim investasi yang semakin kondusif.

Bupati Joune Ganda menyampaikan bahwa kerja sama ini bukan hanya menghadirkan bibit unggul, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan sistem peternakan modern yang berkelanjutan.

“Kemitraan ini membuka peluang besar bagi transfer teknologi dan peningkatan mutu genetik. Kita bangga karena Minahasa Utara menjadi daerah pertama yang mempelopori kerja sama ini. Kita berharap dampaknya bisa langsung dirasakan oleh peternak lokal di daerah, meningkatkan produktivitas, serta membuka ruang bagi industri peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan ke depan,” ujar Joune Ganda.

Menurutnya, kehadiran investasi di sektor peternakan juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Seiring dimulainya kerja sama tersebut, PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW), yang merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), telah merealisasikan investasinya di Desa Batu, Kecamatan Likupang Selatan, dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp20 miliar.

Sebagai tahap awal implementasi program, sebanyak 546 ekor bibit babi unggul yang didatangkan langsung dari Denmark telah tiba di Sulawesi Utara pada 7 Juli 2026. Kehadiran bibit unggul tersebut menjadi langkah awal pengembangan peternakan berbasis genetika modern di Minahasa Utara.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Minahasa Utara, Richard J.H. Dondokambey, S.STP., M.AP., menjelaskan bahwa seluruh proses investasi telah memenuhi ketentuan perizinan sesuai regulasi yang berlaku.

Ia mengungkapkan bahwa PT SOW bergerak di bidang peternakan babi dengan klasifikasi KBLI 01450 dan saat ini tengah membangun fasilitas peternakan berupa ruang gestation seluas 1.090 meter persegi di atas lahan seluas 102.680 meter persegi.

“Seluruh proses perizinan operasional PT SOW telah berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Mereka bergerak di bidang peternakan babi dengan kode KBLI 01450. Saat ini pembangunan fasilitas peternakan atau ruang gestation seluas 1.090 meter persegi di atas total lahan 102.680 meter persegi sedang berjalan di lapangan,” jelas Richard.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara akan terus melakukan pengawasan terhadap perkembangan investasi tersebut agar berjalan sesuai ketentuan, sekaligus memastikan manfaat ekonomi dan sosial benar-benar dirasakan masyarakat sekitar.

Richard juga mengapresiasi komitmen perusahaan yang dipimpin Direktur Andreas Surjaputra dalam memberdayakan tenaga kerja lokal. Hal itu dibuktikan dengan penunjukan Richard Sumendap, warga asli Desa Batu, sebagai penanggung jawab operasional di lapangan.

“Kami dari DPMPTSP akan terus mengawal perkembangan fisik proyek ini sembari menunggu penyampaian Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) secara berkala dari pihak manajemen. Kami ingin memastikan investasi Rp20 miliar ini tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi baru dan membuka lapangan kerja yang luas bagi masyarakat Likupang Selatan,” tegas Richard Dondokambey.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *