Petasulut.com, TANGERANG – Bupati Minahasa Utara (Minut) Joune Ganda bersama Ketua Dekranasda Minut, Rizya Ganda Davega, memanfaatkan APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026 sebagai momentum memperkenalkan potensi daerah ke jejaring nasional hingga internasional.
Keduanya menjalankan peran yang saling melengkapi. Joune Ganda fokus membawa agenda investasi dan potensi strategis Minahasa Utara dalam berbagai forum, sementara Rizya Ganda Davega aktif memperkenalkan produk lokal serta industri kecil dan menengah (IKM) kepada para tamu yang mengunjungi stand Minut.
Salah satu momen menarik terlihat ketika Joune Ganda secara langsung memperkenalkan produk pangan lokal Minahasa Utara kepada perwakilan OECD Centre for Entrepreneurship, SMEs, Regions and Cities yang berkunjung ke stand Minut.
OECD Centre tersebut merupakan bagian dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kewirausahaan, usaha kecil dan menengah, pembangunan wilayah dan kota, penciptaan lapangan kerja lokal hingga kebijakan pariwisata.
Joune Promosikan Kenari sebagai Kearifan Lokal Minut
Di hadapan perwakilan OECD, Joune memperkenalkan sejumlah produk pangan khas Minahasa Utara, termasuk olahan yang menggunakan kacang kenari.
Menurut Joune, kenari merupakan salah satu potensi lokal yang memiliki keunikan dan perlu kembali diangkat sebagai bagian dari identitas daerah.
“Kacang kenari ini merupakan sesuatu yang unik. Memang sekarang ini sudah tidak banyak di Kabupaten Minahasa Utara, tetapi ini juga menjadi program kita untuk bisa mengangkat kacang kenari ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang ada di Minahasa Utara,” ujar Joune.
Ia menjelaskan, kenari selama ini digunakan sebagai salah satu bahan dalam berbagai olahan kue khas Minahasa Utara.
Perpaduan bahan lokal dengan resep tradisional tersebut dinilai dapat menghasilkan produk kuliner yang memiliki karakter tersendiri sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata.
“Saya sering mempromosikan kepada para pengunjung, khususnya agar mereka tahu bahwa di Minahasa Utara ini kita juga memiliki kearifan lokal berupa kue-kue yang ada kenarinya,” katanya.
Bagi Joune, pengembangan kuliner lokal tidak dapat dipisahkan dari sektor pariwisata. Produk makanan khas dan oleh-oleh menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Kalau kita bicara pariwisata, maka kita juga harus berbicara tentang supporting dari pariwisata itu sendiri, termasuk di dalamnya bagaimana kita menyediakan oleh-oleh, makanan khas, kue-kue khas,” jelasnya.
Rizya Aktif Promosikan Produk IKM Minut
Di sisi lain, Rizya Ganda Davega menjalankan perannya sebagai Ketua Dekranasda Minut dengan aktif mempromosikan produk-produk lokal kepada para pengunjung AOE 2026.
Didampingi Kepala Dinas Perindustrian Minut, Agnes Tumangkeng, Rizya terlihat menjelaskan berbagai produk IKM Minahasa Utara kepada sejumlah pejabat, tamu dan calon mitra yang datang ke stand.
Pantauan di lokasi, Rizya juga terlihat berdiskusi dengan pihak dari Korea Selatan yang menunjukkan ketertarikan terhadap peluang kerja sama dengan Minahasa Utara.
Komunikasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk membuka akses yang lebih luas bagi produk dan pelaku IKM Minut, termasuk peluang menembus pasar luar negeri.
Joune mengatakan, komunikasi dengan pihak Korea Selatan sebelumnya juga telah membahas peluang kerja sama di sektor kecantikan dan kerajinan.
Menurutnya, pihak Korea memiliki jejaring di bidang kecantikan yang berpotensi membuka akses komunikasi dengan tenaga profesional maupun pelaku usaha di sektor tersebut.
Sementara di bidang kerajinan, peluang pemasaran produk khas Minut ke Korea Selatan mulai dijajaki, salah satunya kerajinan berbahan batok kelapa.
“Mereka mau coba untuk kerajinan UMKM kita untuk bisa dijual atau bisa dipasarkan di Korea Selatan. Kita punya keunikan-keunikan, misalnya dari bahan batok kelapa,” ujar Joune.
Kerajinan Minut Berpeluang Masuk Pasar Korea
Peluang kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemasaran produk jadi. Menurut Joune, skema kerja sama juga dapat dikembangkan melalui penyediaan bahan baku dari Minahasa Utara, sementara proses kreativitas dan pengembangan produk dilakukan oleh mitra di Korea Selatan.
“Mungkin mereka kreativitasnya dari mereka, mereka butuh bahan bakunya dari kita. Nah, itu yang kita suplai,” katanya.
Skema tersebut membuka kemungkinan terciptanya rantai ekonomi yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha lokal, terutama jika bahan baku yang tersedia di Minut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dengan demikian, keikutsertaan Minut dalam AOE 2026 tidak berhenti pada kegiatan promosi, tetapi diarahkan untuk membuka komunikasi bisnis dan peluang kerja sama dengan calon mitra dari luar negeri.
Perwakilan Sejumlah Negara Hadir
Jejaring internasional yang hadir dalam rangkaian AOE 2026 juga tidak hanya berasal dari Korea Selatan.
Joune menyebut sejumlah perwakilan negara dan lembaga internasional turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pakistan, India, Chile dan Australia. Perwakilan World Bank juga disebut hadir dalam rangkaian kegiatan.
“Kemarin bisa dilihat perwakilan dari duta-duta besar juga hadir. Datang ke sini juga ada dari Pakistan, dari India, kemudian dari Chili, ada dari World Bank juga. Dan ini dari Australia juga,” kata Joune.
Menurutnya, kehadiran berbagai perwakilan negara dan lembaga internasional tersebut menjadi kesempatan strategis bagi pemerintah daerah untuk memperkenalkan potensi investasi yang tersedia di tingkat kabupaten.
Selama ini, peluang investasi kerap lebih banyak dikaitkan dengan pusat-pusat ekonomi berskala besar. Melalui forum seperti AOE, pemerintah kabupaten dapat memperlihatkan bahwa daerah juga memiliki potensi yang layak diperhitungkan.
“Ini akan lebih membuka wawasan mereka bahwa di daerah atau di kabupaten itu, termasuk Minahasa Utara, memiliki peluang untuk bisa mereka berinvestasi,” ujarnya.
AOE 2026 berlangsung pada 27–29 Agustus 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, dengan mengusung tema “Jelajahi Ragam Komoditas Indonesia Tanpa Batas.”
Bagi Minahasa Utara, momentum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan potensi lokal dengan jejaring yang lebih luas. Dari kuliner berbahan kenari, kerajinan batok kelapa hingga sektor pariwisata dan investasi, Minut berupaya membawa produk serta potensi daerah menuju pasar yang lebih luas, termasuk peluang di tingkat internasional.










