Petasulut.com, TONDANO – Tim peneliti dari Universitas Negeri Manado (UNIMA) tengah melakukan riset strategis bertajuk “Manajemen Inovasi dan Bisnis sebagai Upaya Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional: Penguatan Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Tomohon Selatan”.
Penelitian yang didanai melalui hibah PNBP LPPM UNIMA tahun 2025 ini dipimpin oleh Anas Romzy Hibrida, S.Sos., MM bersama tim yang terdiri dari Cristofer Sumiok, SE., M.SA dan Mellyatul Aini, M.Pd.
Diketahui, pelaksanaan penelitian ini dimulai pada tanggal 30 Juli 2025.
Riset ini menyoroti peran vital Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dalam meningkatkan kapasitas petani, khususnya di tengah tantangan ketahanan pangan nasional.

Menurut Anas, ketahanan pangan Indonesia masih menghadapi masalah serius. Data Global Food Security Index (GFSI) 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 113 negara, sementara Global Hunger Index (GHI) 2023 mengkategorikan Indonesia pada level “moderate hunger”.
“Balai Penyuluhan Pertanian adalah garda terdepan dalam mendampingi petani. Namun, masih ada kendala seperti jumlah penyuluh yang terbatas, regulasi yang belum konsisten, serta inovasi yang belum terkoneksi dengan pasar. Penelitian ini berupaya menawarkan solusi berbasis inovasi dan model bisnis agar BPP semakin berdaya dan petani lebih sejahtera,” jelas Anas, Kamis (25/9/2025).
Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, melibatkan 22 penyuluh pertanian di Kecamatan Tomohon Selatan. Tim peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan Kepala BPP, Kepala Dinas Pertanian Kota Tomohon, serta Ketua Bakorluh Sulawesi Utara.

Dari hasil sementara, tim menemukan bahwa:
– Manajemen operasional BPP cukup baik, namun evaluasi program belum rutin.
– Penyuluh memiliki kompetensi dan motivasi tinggi, tetapi jumlahnya masih terbatas.
– Regulasi lebih banyak mengacu pada kebijakan pusat sehingga kurang adaptif pada kondisi lokal.
– Program inovasi sudah ada, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan pasar dan agribisnis baru.
Tim UNIMA kemudian merumuskan model penguatan BPP yang menekankan pada:
1. Integrasi knowledge management agar riset benar-benar bermanfaat bagi petani.
2. Model penyuluhan partisipatif, bukan hanya top-down.
3. Inkubasi bisnis di dalam BPP untuk mendukung usaha tani berkelanjutan.
“Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi akademik, tetapi juga rekomendasi praktis bagi pemerintah daerah dan nasional. Harapannya, hasil riset bisa menjadi peta jalan kebijakan ketahanan pangan yang lebih kokoh,” tambah Anas.
Selain publikasi di jurnal nasional terakreditasi (Sinta 3 dan Sinta 5), tim juga menargetkan buku penelitian ber-ISBN, HKI, serta artikel populer di media massa sebagai luaran penelitian. Riset ini direncanakan selesai pada September 2025 dan akan dipresentasikan dalam seminar hasil di lingkungan UNIMA.
(ABL)










