Petasulut.com, MINAHASA UTARA – Aksi nyata sekelompok anak muda yang peduli terhadap lingkungan mendapat apresiasi dari masyarakat Desa Wori, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut).
Salah satu warga Wori, Reflin R. Rumengan, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada para pemuda yang telah melaksanakan aksi bersih-bersih di desanya.
“Keren dan salut untuk pemuda-pemudi yang sangat peduli akan kebersihan di desa kami. Makasih nyong dan nona manise. Tetap tebarkan terus kebaikan. Makasih juga untuk Kepala Lingkungan I yang ikut mendampingi. Tuhan Yesus memberkati,” ungkap Reflin.
Apresiasi tersebut merupakan respons atas kegiatan yang digagas Kelompok Muda Pecinta Alam (KMPA) Tindakan Antusias Simpati Alam (Tansa) Sulut bersama Kelompok Pecinta Alam Bebas (KPAB) Phoenix dalam program bertajuk “Menanam Kebersamaan, Memanen Kepedulian”, yang dilaksanakan di Desa Wori, Sabtu (4/7/2026).
Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam program tersebut, mulai dari pembagian puluhan bibit pucuk merah kepada masyarakat, diskusi mengenai keorganisasian, hingga aksi pembersihan kawasan hutan mangrove.
Pengurus KMPA Tansa, Aldy Mandagi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi sederhana dalam upaya mencegah perubahan iklim, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus memperkuat pemahaman keorganisasian bagi para pecinta alam.
“Kita tahu bersama, berdasarkan laporan Germanwatch e.V., gelombang panas ekstrem memecahkan rekor di Eropa dan menyebabkan sedikitnya 1.300 kematian di Prancis, Spanyol, Jerman, serta Italia. Sementara itu, negara berkembang seperti Filipina dan India menghadapi ancaman cuaca ekstrem akibat meningkatnya suhu laut dan kekeringan,” ujar Aldy.
Menurutnya, dampak perubahan iklim juga mulai dirasakan di Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.
“Saat ini kita merasakan cuaca yang semakin panas. Kondisi ini secara tidak langsung mengancam kehidupan masyarakat, mulai dari menurunnya hasil pertanian, berkurangnya kualitas dan ketersediaan air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan,” katanya.
Karena itu, pembagian bibit pucuk merah menjadi salah satu langkah kecil yang diharapkan dapat membantu mengurangi dampak pemanasan global.
“Pucuk merah memiliki berbagai senyawa bioaktif yang mampu membantu menjaga keseimbangan ekosistem melalui penyerapan karbon dioksida (CO₂) serta menyimpan cadangan air,” jelasnya.
Mengutip laman Biotifor, Aldy menjelaskan bahwa laju fotosintesis dan kandungan timbal pada daun pucuk merah menunjukkan tanaman tersebut mampu menyerap karbon dioksida lebih tinggi dibandingkan sejumlah jenis tanaman lainnya.
Kemampuan tersebut dinilai dapat membantu mengurangi dampak pemanasan global, sekaligus menyerap logam berat di udara yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.
“Sebuah penelitian dari Universitas Negeri Malang menemukan laju fotosintesis daun pucuk merah mencapai 0,0218 mg CO₂ per gram per jam dengan kandungan timbal sekitar 0,0025 mg per gram,” ungkapnya.
Temuan serupa juga diperoleh peneliti dari Universitas Udayana. Dalam penelitian tersebut, laju fotosintesis daun pucuk merah mencapai 0,024 mg CO₂ per gram per jam dengan kandungan timbal sebesar 0,003 mg per gram.
“Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tanaman lainnya, sehingga menjadikan pucuk merah sebagai tanaman yang ideal dalam membantu mengurangi polusi udara serta efek rumah kaca yang berdampak pada lingkungan maupun kesehatan manusia,” tambah Aldy.
Ia berharap bibit yang dibagikan kepada masyarakat Wori dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Selain itu, kegiatan diskusi keorganisasian juga menjadi bagian penting dalam program tersebut.
“Kami mencoba mengangkat berbagai persoalan yang sering dihadapi organisasi, kemudian bersama-sama mencari solusi melalui motivasi dan penguatan kapasitas. Pengetahuan seperti ini sangat penting untuk kemajuan organisasi, terutama dalam menyelesaikan persoalan dengan visi yang jelas,” terangnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan aksi pembersihan kawasan hutan mangrove.
Menurut Aldy, aksi tersebut lahir dari rasa kepedulian terhadap banyaknya sampah plastik dan tali yang mencemari kawasan mangrove.
“Sampah-sampah tersebut menjadi ancaman bagi ekosistem mangrove maupun manusia. Bagi mangrove, sampah dapat mempercepat kematian dan menghambat pertumbuhannya. Sementara bagi manusia, ancaman terbesar adalah mikroplastik.”
Ia menjelaskan bahwa sampah plastik yang terurai di laut akan berubah menjadi mikroplastik, kemudian dikonsumsi ikan yang pada akhirnya dapat masuk ke rantai makanan manusia.
“Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan pesisir merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan manusia itu sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Chrisly Rumambi, Ketua Panitia sekaligus anggota KPAB Phoenix, berharap kegiatan tersebut mampu mempererat kebersamaan sekaligus membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
“Kiranya kesadaran masyarakat semakin tumbuh untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih, hijau, dan nyaman,” katanya.
Menurut Chrisly, kegiatan serupa tidak akan berhenti sampai di sini, melainkan akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai agenda rutin guna menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Penguatan Keorganisasian Membangun Kepemimpinan
Dalam sesi diskusi, perwakilan KPPA Tarantula, Fenly Derek, memaparkan pentingnya navigasi organisasi sebagai penentu arah dan tujuan organisasi.
“Navigasi organisasi menentukan posisi dan arah gerak organisasi secara tepat. Baik ketua maupun anggota harus mampu membangun motivasi dari dalam diri, sementara organisasi juga harus terus memberikan motivasi kepada anggotanya agar hubungan tetap terjalin dengan baik,” ujarnya.
Fenly menilai maju atau tidaknya sebuah organisasi sangat bergantung pada kualitas kepengurusan.
“Kevakuman organisasi biasanya terjadi karena visi yang tidak jelas, kurangnya ruang diskusi dua arah, minimnya masukan dan kritik yang membangun,” katanya.
Ia juga menyoroti masih adanya kesenjangan antara senior dan junior dalam organisasi pecinta alam.
“Sering kali junior tidak diberikan ruang untuk berkreasi karena masih adanya ego dan penekanan dari senior. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, kepemimpinan tidak akan pernah terbentuk. Semua hanya berjalan karena rasa takut, bukan karena lahir dari ide dan kreativitas para pengurus.”
Karena itu, menurutnya, organisasi perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Untuk mengatasi persoalan tersebut diperlukan penguatan pengetahuan dasar mengenai visi organisasi, membangun keterpanggilan anggota, serta memperbanyak ruang diskusi yang terbuka dan sehat. Dengan begitu, organisasi akan tumbuh lebih kuat dan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas,” pungkasnya.
Suksesnya agenda ini tidak lepas dari peran dari berbagai organisasi yang ikut terlibat, berupa MPA Avestaria Fispol Unsrat, KSR PMI UPT Polimdo, KPPA Tarantula, KPAB Chiroptera, KPA Silvaterra, GMPA Panthera Pardus, dan PPAB Everest, Simpatisan Alam Indonesia, dan KPAB Nucifera.
(ABL)










