Peduli GMIM! Warga Gelar Aksi Pemasangan 1000 Lilin dan Doa Bersama

Petasulut.com, SULUT – Warga Peduli GMIM menggelar aksi pemasangan seribu (1000) lilin, selasa (19/04) di halaman Study Center GMKI Manado.

Aksi ini dilakukan dalam rangka menatap beberapa persoalan yang menyasar di tubuh GMIM.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan warga GMIM dari berbagai elemen Masyarakat. Ibadah pemasangan seribu lilin ini dipimpin oleh Pdt Boyke Mait.

Ditempat pemasangan seribu Lilin, Salah satu pemerhati GMIM, Mona Saroinsong memberikan pandangannya terhadap ketua Sinode GMIM Hein Arina (HA).

“Ketua sinode GMIM dua periode tersebut dinilai sudah tidak mencerminkan sikap sebagai pimpinan lembaga gereja yang saleh. Tata Gereja pun dianggap telah terjadi penyimpangan-penyimpangan,” ucap Mona Saroinsong ketika diwawancarai Wartawan.

Dirinya pun menjelaskan bahwa pihaknya sebagai warga peduli GMIM berharap dengan adanya hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi di GMIM, ketua Sinode maupun petinggi GMIM lainya, mau terbuka dan bertobat dengan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai Kehendak Tuhan.

Mona pun melanjutkan bahwa penyimpangan-penyimpangan yang terjadi antara lain adalah pelanggaran tata gereja GMIM. Banyak hal yang dilakukan yang sudah tidak sesuai.

”Misalnya dalam khotbah-khotbah selalu mengarah ke uang. Selain itu, terjadi pendirian jemaat yang baru padahal tata gereja tahun 2021 itu yang di ubah dalam sidang sinode istimewa mengatakan bahwa, berdirinya suatu jemaat atas permintaan jemaat. Ini tidak, seakan-akan dipaksakan,” Katanya.

Lanjutnya, ada jemaat yang tidak mau di mekarkan tapi terkesan dipaksakan. Itu salah satu contoh, Kemudian terjadi mutasi yang tidak mengikuti seperti yang tertuang dalam tata gereja, dilihat tahun pelayanan sang pendeta, sebagai pegawai organik, berapa lama dia sebagai ketua jemaat baru diangkat jadi ketua wilayah.

“Ini baru empat tahun diangkat jadi ketua jemaat sudah diangkat jadi ketua wilayah. Jadi Seperti itu ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di tata gereja kita,” Lugasnya.

Selanjutnya terkait dengan HA, Mona menjelaskan bahwa sebagai pimpinan lembaga GMIM, HA tidak mencerminkan sikap sebagai gereja yang oikumene. Melihat dari kejadian saat sidang MPL-PGI di Tahuna beberapa waktu lalu. Mona pun mengutuk keras aksi mabuk oleh HA di salah satu hotel.

“Khusus untuk ketua sinode tidak menampakan ke-Oikumene-san GMIM misalnya satu paling jelas sekali sidang MPL PGI berlangsung di GMIST tidak satupun GMIM mengutus utusan malah terjadi mabuk-mabukan,” Tambahnya sambil menyentil juga kejadian di RS Bethesda tentang pengrusakan pintu serta bunga 2% yang ditawarkan HA.

“Kemudian bukti yang disampaikan oleh dokter Ramon Amiman yang sebenarnya pihak Bank mandiri maupun Bank BNI, mahu meminjamkan dana demi infrastruktur rumah sakit dengan bunga hanya 0,7% tidak diijinkan oleh Arina, malahan dianjurkan meminjam di kas Sinode GMIM dengan bunga 2%,” tambahnya.

Mengenai hal tersebut, Mona pun berharap agar HA dapat mengakui kesalahannya.

” Ini bentuk keprihatinan kami, sehingga kegiatan 1000 Lilin ini dilakukan, Yang kami minta hanya pengakuan dan pertobatan yang selama ini tidak ada pengakuan dari yang bersangkutan,” Tuturnya.

Mona tegaskan bahwa tujuan kegiatan pemasangan 1000 lilin ini merupakan aksi damai, dibalut dengan cinta Kasih Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita semua.

“Dan ini bagian dari introspeksi diri dalam memaknai kematian dan kebangkitan Kristus Yesus tahun 2022 ini, yang kami Imani,” tutup Mona.

Ditempat yang sama, Humas Rumah Sakit Bethesda Tomohon (RSB) Franny Walangitan mengatakan kegiatan ini juga berpengharapan ada pintu masuk dalam penyelesaian masalah RSB, lewat Doa yang digumuli oleh pendeta dan para relawan yang peduli akan masalah RSB.

Kegiatan pemasangan 1000 Lilin dan ibadah yang menjadi Koordinator umum Max Sisso
Kordinator lapangan Antonios Ngampas dan Toni Winokan. serta Vitha dan para pemerhati lainya.

(ABL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *