Petasulut.com, Manado (20 September 2025 – Dampak Lingkungan berupa limbah rumah tangga kerap dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal itu sangat berdampak serius bagi kesehatan maupun lingkungan.
Salah satu yang ditemui adalah minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang pakai berulang kali.
Hal itupun diseriusi oleh sekelompok dosen dari Universitas Negeri Manado (UNIMA) Tondano.
Lewat Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), tim Dosen UNIMA turun langsung melaksanakan kegiatan yang bertajuk Pemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Bahan Baku Pembuatan Lilin Aromaterapi untuk Mengurangi Limbah Rumah Tangga dan Memberdayakan Masyarakat.
Kegiatan ini berlangsung di Kelurahan Batu Kota, Manado, dengan menghadirkan ibu-ibu PKK dari dua kelompok dasa wisma sebagai peserta utama.
Tim pelaksana dipimpin oleh Jenny Kumajas, M.Si. yang merupakan dosen jurusan kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian Universitas Negeri Manado.

Dalam sambutannya, Jenny menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya minyak jelantah sekaligus menunjukkan bagaimana limbah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
“Minyak jelantah yang digunakan berulang kali dapat membahayakan kesehatan. Hidrolisis dan oksidasi dalam minyak dapat memicu penyakit serius, mulai dari jantung, stroke, hingga kanker. Di sisi lain, membuang minyak jelantah secara sembarangan dapat mencemari lingkungan, menurunkan kualitas air, dan membuat tanah kurang subur. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan solusi praktis dengan mengubah limbah menjadi lilin aromaterapi yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga berpotensi menambah penghasilan keluarga,” tuturnya
Kegiatan yang dilakukan meliputi koordinasi dengan ibu-ibu PKK sebagai mitra, penyusunan materi, pembagian tugas tim, penyampaian ceramah mengenai dampak buruk minyak jelantah bagi kesehatan dan lingkungan dan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi.
Setelah itu, tim pelaksana mendampingi peserta untuk mencoba langsung proses pembuatan lilin aromaterapi dari minyak bekas.
Proses ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga memunculkan antusiasme peserta yang tampak tertarik mencoba dan berdiskusi.
Sejumlah peserta memberikan kesan yang cukup mendalam. Seorang ibu muda mengaku baru mengetahui bahaya minyak jelantah bagi kesehatan.
“Saya baru tahu kalau minyak jelantah yang biasanya saya tambahkan ke sambal bubur Manado ternyata beresiko sekali untuk kesehatan. Mulai sekarang saya tidak akan menggunakannya lagi,” ujarnya.
Peserta lain menambahkan, “Saya juga baru sadar bahwa membuang minyak jelantah sembarangan bisa merusak tanah. Padahal saya sering membuangnya begitu saja di halaman,”
Antusiasme para ibu PKK menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru di tengah masyarakat. Beberapa bahkan sudah membayangkan peluang usaha dengan memasarkan lilin aromaterapi hasil olahan minyak bekas.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa masalah lingkungan dapat diatasi dengan pendekatan kreatif dan edukatif.
Mengubah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bukan hanya langkah kecil dalam menjaga kesehatan dan lingkungan, tetapi juga peluang besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan keberhasilan pelaksanaan kegiatan di Kelurahan Batu Kota, tim berharap program serupa dapat diperluas ke wilayah lain di Manado.
Harapannya, semakin banyak masyarakat yang sadar akan bahaya minyak jelantah, sekaligus mampu memanfaatkannya menjadi produk bermanfaat yang bernilai ekonomi.
(ABL)










