Psikolog Dan Tokoh Muda Beri Pandangan Soal Kasus Paman Cabuli Ponakan di Bolsel

0
Foto: Psikolog, Hanna Monareh (Atas) - Tokoh Pemudah Sulut, Putra Jaya (Bawah)

Petasulut.com, SULUT – Terkait dengan kasus yang menimpah seorang bocah inisial IP (10) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara (Sulut).

Dimana, bocah tersebut menjadi korban pencabulan atas pamannya sendiri yang berinisial MP (42).

Yang lebih tragisnya lagi, Tersangka melakukan aksi cabulnya berkali-kali disaat orang tua korban ke luar untuk kerja.

Namun, tersangka MP diketahui telah diamankan pihak kepolisian guna meminta keterangan lebih lanjut.

Menanggapi kasus bejat ini, Psikolog Hanna Monareh, M.Psi mengatakan bahwa Pelaku kekerasan seksual adalah orang-orang terdekat.

“Sebagai keluarga tidak jarang juga pelaku sering memanfaatkan anak-anak dengan ketidakberdayaan anak. Di beberapa kasus, pelaku juga biasanya membujuk anak, misalnya dengan memberikan uang. Berulang – ulang kali, seringkali korban mendapatkan pengacaman dari pelaku. Hal ini yang membuatnya takut, tidak mampu terbuka dan menyampaikan pada orang lain. Anak yang menjadi korban kekerasan seksual rentan menimbulkan dampak psikologis. Mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kedepannya,” jelas Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Sulawesi Utara, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/5).

“Untuk mengetahui dampak psikologis seperti : depresi, trauma dan masalah psikologis lainnya adalah dengan pemeriksaan psikologis. Pemeriksaan psikologis diharapkan dapat membantu untuk melengkapi kelengkapan pemeriksaan dari pihak kepolisian,” tambah Hanna.

Di tempat berbeda, Tokoh Pemuda Sulut, I wayan putra jaya S, Psi ikut angkat suara. Dirinya mengatakan bahwa hal semacam ini perlu juga mendapat perhatian yang serius dari pemerintah daerah, melalui dinas terkait seperti dinas P3A.

“Karena ini masalah yang sangat serius, pelaku kejahatan seperti ini boleh di katakan sebagai Predator anak atau kejahatan seksual terhadap anak. karena pelaku telah merusak masa depan anak bangsa,” tegas Alumni Psikologi Ukit Tomohon itu.

“Karena itu, pelaku kekerasan terhadap anak ini sewajibnya mendapat hukuman yang setimpal, apalagi sudah di tandatangani peraturan pemerintah Nomor 70 tahun 2020 tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri atau suntik kimia bisa membuat efek jerah,” sambungnya.

(ABL)

Previous articleRanperda Irigasi, Fraksi NasDem Beri Catatan Penting
Next articlePaman Cabuli Ponakan di Bolsel, SJENNY KALANGI: Peran Ortu di Utamakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here