Transformasi Intelektual Dan Moral: Sebuah Tantangan Pendidikan.

0
Ambrosius M. Loho, M. Fil. (Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado - Pegiat Filsafat-Estetika)

Pandemi telah setahun lebih melanda dunia. Hantaman pandemi termasuk menghantam dunia pendidikan. Pendidikan adalah sektor penting yang, atas cara tertentu, tidak bisa diabaikan.

Namun demikian, kendati pendidikan telah dihantam badai pandemi yang juga menyebabkan pembelajaran terkendala dan terbatas, pendidikan harus terus berjalan.

Dengan model pembelajaran ber-platform online, membuktikan pendidikan tetap berjalan. Walaupun tidak ada jaminan bahwa hal itu akan membantu para guru dan para siswa dalam menjalankan pendidikan dan pembelajaran itu, pendidikan tetap harus berjalan.

Harus diakui, bahwa agak sulit memastikan bahwa proses pembelajaran memang berjalan sebagaimana mestinya, dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, tapi pendidikan harus tetap merupakan proses transformasi intelektual dan moral.

Maka berkaitan dengan pendidikan yang dimaksud,sekurang-kurangnya dapat disebutkan di sini, pandangan seorang Filsuf Kanada, Bernard Lonergen (1922-1984), tentang pendidikan.

Menurutnya, pendidikan adalah revitalisasi belajar yang berkesinambungan mengenai kehidupan.

Pendidikan yang dimaksudkan Lonergen ini mencakup dua hal: Pertama, transformasi intelektual, yaitu transformasi dari mitos kognitif, bahwa mengetahui itu adalah melihat objek, yang didorong oleh keinginan untuk mengetahui, dan mengetahui itu mencakup mengalami, memahami dan menilai objek.

Jadi, dengan pendidikan, manusia bertransformasi lewat mengalami, memahami dan menilai objek itu (dalam konteks tulisan ini, yakni kebudayaan).

Kedua, transformasi moral, yaitu perubahan kriteria pengambilan keputusan, dari kriteria apa yang memuaskan diriku, kepada kriteria berdasarkan nilai-nilai.

(Sastrapratedja, 2013: 317). Pendidikan pada prinsipnya adalah sarana menyampaikan apa artinya menjadi manusia.

Pendidikan yang sesunggguhnya dan sebetul-betulnya, adalah mampu menyesuaikan diri bukan hanya dengan tradisi, tetapi juga dengan akal budinya itu, kemudian manusia mampu menganalisa, dan mengkritisi perkembangan demi sebuah perkembangan yang sesungguhnya juga.

Hal ini turut pula menegaskan tentang cara membenahi kebudayaan dan cara pandang tentang kebudayaan.

Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa pendidikan kini agak sulit untuk dijalankan, bagaimana kita bisa menjamin bahwa proses transformasi intelektual dan transformasi moral itu berjalan, sebagaimana dimaksudkan Lonergen?.

Berbagai kreativitas guru dalam mengajar selama pandemi dengan pembelajaran model online/virtual, tentu harus menjadi yang utama. Penulis mengamati, bahwa para guru-pengajar telah berupaya dengan kreativitasnya berbagai model atau cara mengajar lewat layar laptop atau pun handphone.

Dari model ini, bisa dipastikan, siswa atau objek yang diajari, tidak maksimal dalam menerima apa yang diajarkan oleh para pengajar. Kendati demikian, banyak pengajar telah berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan iklim belajar yang paling tidak, bisa membuat siswa atau objek yang diajari mengerti dan memahami materi.

Adapula pengajar yang memanfaatkan media digital dengan meminta para siswa atau objek yang diajar untuk menciptakan sendiri kreativitasnya melalui pembuatan konten, terkait pembelajaran atau materi yang dibahas.

Adapula yang mewajibkan mahasiswa menuliskan kembali pandangan mereka dalam bentuk esai atau makalah kemudian dipresentasikan di kelas secara online. Itulah fakta yang terjadi.

Terkait apa yang dikatakan oleh Lonergen, bagaimana kita bisa mengukur bahwa model pembelajaran yang selama ini dikembangkan oleh guru, bisa menunjukan bahwa proses transformasi intelektual berjalan?.

Hemat penulis, melalui metode ujian lisan virtual dimana setiap siswa atau objek yang diajari, berdialog secara virtual dengan pengajar. Metode ini tentu menjadi kunci bagi pengajar untuk mengukur kemampuan intelektual objek yang diajari (para siswa dan mahasiswa).

Di dalam model ujian ini, semua hal bisa diuji oleh para pengajar, sehingga alat ukur untuk memberikan nilai bagi mereka bisa jelas. Di sisi yang sama, kita bisa melihat secara jelas (walaupun virtual) para subjek didik, mengerti dan atau tidak mengerti apa yang telah pernah diajarkan.

Kedua, terkait transformasi moral yang menjadi fokus dari Lonergen, pengajar tentu harus memaksimalkan poin-poin dalam materi yang diajarkan untuk bisa menghasilkan transformasi moral ini.

Transformasi moral juga bisa tampak lewat pembuatan konten, sebagai bagian dari pendalaman materi yang telah diajarkan di kelas online). Jika semua ini bisa dijalankan, tentu pada akhirnya mengabdi kepada kretivitas yang benar-benar memanfaatkan media digital yang ada.

Demikian juga, konten yang diciptakan oleh para subjek didik, bisa diposting di berbagai media sosial yang ada, dalam rangka juga mengedukasi masyarakat.

Dengan demikian, jika hal ini bisa berjalan dengan baik, dua poin yang dikatakan oleh Lonergen, tentu bisa berjalan dalam proses pendidikan. Menjadi pengajar bukan hanya bermental: ‘catat buku sampai habis’, lalu diberi penilaian.

Pengajar harus mampu dan siap mengukur pengetauan subjek didik, melalui ujian lisan virtual, termasuk memberikan kesempatan para subjek didik untuk menciptakan konten kreatif berdasarkan materi yang diajarkan. Dari sini, proses transformasi yang memayungi kedua poin ini, benar-benar berjalan dengan baik.
(Gabri)

Previous articleNICK Pertanyakan BTP Disperindag Yang Menyentuh Rp. 2,5 M
Next articleKecelakaan, Anggota DPRD Manado Meikel Maringka Meninggal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here