Bukan Sekedar Koleksi, Uang Rp75.000 Sah Untuk Transaksi

0
Uang Pecahan Rp75.000 (Foto Istimewa)

Petasulut.com, NASIONAL – Uang baru pecahan Rp75.000 saat ini menjadi pertanyaan publik, apakah uang tersebut dapat digunakan untuk transaksi atau hanya merupakan koleksi semata.

Hal itu menjadi pertanyaan ketika uang ini muncul pada hari kemerdekaan tahun 2020 lalu.

Mengenai hal itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Suti Masniari Nasution menegaskan bahwa Uang Peringatan Kemerdekaan (UPK) 75 atau uang baru pecahan Rp75.000 merupakan uang sah untuk digunakan transaksi dan bukan cuma sekedar koleksi atau souvenir.

“UPK 75 ini bisa untuk pembayaran, bukan cuma sekadar untuk souvenir. Ini alat pembayaran yang sah di NKRI,” kata Suti Masriani di Jambi, Jumat (7/5) menanggapi keraguan sejumlah warga khususnya pelaku usaha dan jasa untuk menerima pembayaran uang baru itu.

Sejumlah Pelaku usaha perdagangan dan jasa ternyata masih ragu menerima uang baru kertas pecahan Rp75.000 untuk alat transaksi.

Dia menyebutkan, Uang Peringatan Kemerdekaan ke-75 tahun Republik Indonesia berupa kertas pecahan Rp75.000 merupakan alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah NKRI sehingga masyarakat bisa menggunakan uang tersebut untuk bertransaksi.

“Kalau ada penolakan dari masyarakat yang nggak mau dibayar pakai uang pecahan Rp75.000 seharusnya tidak boleh terjadi. Kan sudah ada undang -undangnya, ” kata Suti dikutip dari Antara.

Menunjuk pasal 23 ayat 1 undang-undang No 7 tahun 2011 tentang mata uang diatur bahwa setiap orang dilarang menolak untuk menerima rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran.

Pada pasal 33 ayat 2 yang menolak untuk menerima rupiah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun dan pidana denda paling banyak Rp200 juta.

Pada momen Idul Fitri 2021, uang pecahan Rp75.000 bisa dijadikan THR idul fitri. Selain itu bisa dijadikan mahar pernikahan karena terlihat cantik dan khas.

Kurangnya Sosialisasi menjadi keragu-raguan sejumlah warga menerima pembayaran uang baru pecahan Rp75.000 terjadi karena belum tersentuh sosialisasi dan informasi terkait uang pecahan baru itu.

Mereka memilih untuk meminta pembayaran dengan uang pecahan lama seperti Rp50.000 atau Rp100.000 yang sudah akrab dalam transaksi mereka sehari-hari.

(ABL)

Previous articleMonitoring, Pansus LKPJ 2020 Turun di 10 Titik Lokasi
Next articlePengurus KBK Paroki Yesus Gembala Yang Baik DiLantik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here