Dari Mikroskop ke Marketplace: Siswa dan Guru SMA N 1 Remboken Siap Jadi Inovator Sains-Ekonomi Kreatif

Petasulut.com, Remboken, 25 Juli 2025 – Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian (FMIPAK) Universitas Negeri Manado (UNIMA) sukses menggelar kegiatan transformatif bertajuk “Pengembangan Kompetensi Mikroteknik untuk Siswa dan Guru dalam Mendukung Pembelajaran Sains dan Ekonomi Kreatif” di SMA Negeri 1 Remboken.

Selama dua hari intensif, pada 24 dan 25 Juli 2025, program ini membekali siswa dan guru dengan keterampilan mikroteknik esensial serta pemahaman mendalam tentang potensi ekonomi kreatif.

Kegiatan dibuka secara resmi pada Kamis, (24/07/2025), oleh Stefanus Pabur, S.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah.

Pembukaan Kegiatan Secara Resmi oleh Wakil Kepala Sekolah

Dalam sambutannya, Stefanus menegaskan “Penguasaan mikroteknik tidak hanya fundamental untuk pembelajaran sains, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam ranah ekonomi kreatif,” Ucapnya.

Setelah pembukaan, para peserta langsung diajak menyelami dunia mikroskopis melalui sesi praktik komprehensif.

Mereka belajar membuat sediaan squash akar bawang merah dan bawang putih untuk mengamati struktur sel secara detail.

Praktik Pembuatan Preparat Squash Akar Bawang (Allium sp.)

Tak hanya itu, peserta juga dilatih teknik apus darah ayam untuk mengamati berbagai unsur sel darah seperti eritrosit, leukosit, trombosit, bahkan mendeteksi kemungkinan parasit darah.

Sesi praktik hari pertama ditutup dengan pembuatan sediaan utuh (whole mount) kutu manusia, sebuah proses yang melibatkan tahapan fiksasi, dehidrasi, clearing, dan mounting untuk menghasilkan preparat awetan utuh yang dapat diamati dalam jangka panjang.

Seluruh kegiatan praktik ini memberikan pengalaman langsung yang sangat berharga bagi siswa dan guru dalam menjelajahi keajaiban mikroskopis.

Memasuki hari kedua, Jumat, (25/07/ 2025), fokus kegiatan bergeser pada inovasi pembelajaran dan strategi ekonomi kreatif, menyiapkan peserta untuk beralih “dari mikroskop ke marketplace”.

Preparat Mikroteknik yang dihasilkan oleh Guru dan Siswa

Para peserta mengikuti pelatihan mendalam mengenai pembuatan modul Project-based Learning (PjBL), yang membimbing mereka merancang proyek-proyek berbasis masalah yang relevan untuk pembelajaran yang lebih aktif dan aplikatif.

Selain itu, sesi penting lainnya adalah pelatihan Digital marketing dengan memanfaatkan platform Shopee.

Dalam sesi ini, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis tentang cara mempromosikan dan menjual hasil preparat mikroteknik yang telah mereka buat.

Hal ini membuka peluang nyata bagi mereka untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan dan memanfaatkan keterampilan ilmiah dalam ranah ekonomi kreatif.

Program pelatihan kompetensi mikroteknik ini membawa beragam manfaat signifikan. Bagi siswa, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan praktis yang meningkatkan pemahaman konsep biologi secara mendalam, tetapi juga membuka wawasan mengenai potensi karier di bidang sains dan kewirausahaan.

Untuk guru, pelatihan ini memperkaya metode pengajaran mereka, memungkinkan penyajian materi yang lebih interaktif dan relevan, sekaligus mendorong inovasi dalam kurikulum.

Sementara itu, bagi sekolah SMA Negeri 1 Remboken kini memiliki sumber daya manusia yang lebih kompeten di bidang mikroteknik, mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sains, dan membuka peluang untuk pengembangan proyek ekonomi kreatif berbasis sains.

Foto bersama Kepala Sekolah dan Peserta Pelatihan

Acara PKM ini ditutup oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Remboken, Sem Rolly Rumagit, S.Pd.,

“Saya mengapresiasi antusiasme peserta serta mengucapkan terima kasih kepada tim PKM FMIPAK UNIMA atas kontribusinya,” Kata Kepsek.

Penutupan program ditandai dengan penyerahan teknologi untuk sekolah dan plakat sebagai simbol keberlanjutan kemitraan dan dukungan terhadap pengembangan pendidikan di SMA Negeri 1 Remboken.

Diharapkan, melalui program ini, siswa dan guru tidak hanya menguasai mikroteknik, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam pembelajaran sains dan mengembangkan potensi mereka sebagai inovator sains-ekonomi kreatif di masa depan.

(ABL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar