Petasulut.com, SULUT – Anggota DPRD Sulut, Julius Jems Tuuk mengatakan bahwa Universitas Sam Ratulangi memiliki tiga fungsi menurut Undang-undang yakni Fungsi Pendidikan, Penilitian dan Pengabdian. Namun ketiga fungsi tersebut kurang dimaksimalkan Unsrat sebagai penerapan ke masyarakat.
Jems Tuuk sebagai anak petani dan Direktur LSM Peduli Petani, Peternak dan Nelayan Sulawesi Utara merasa kontribusi Unsrat terhadap petani, peternak dan nelayan sampai hari ini tidak ada. Kalau pun ada, tidak dirasakan langsung.
“Kalau cuma Kuliah Kerja Nyata (KKN), dorang turun cuma kebanyakan beking batas-batas kampung. Harusnya Unsrat bisa berperan seperti Universitas Gadjah Madah (UGM), dimana Unsrat memberi diri untuk melakukan penelitian, misalnya yang terjadi pada masyarakat petani yang ada di modoinding, passi timur dan dumoga, dimana tanaman Hortikultura contohnya kentang, itu kena busuk akar, buah dan daun. Sejujurnya hal itu butuh penelitian panjang dan Unsrat tidak pernah terlibat disitu,” Jelas Tuuk, rabu (30/03) saat diwawancarai awak media.
Sebagai Direktur LSM Peduli Petani, Peternak dan Nelayan, dirinya mempertanyakan dimana Unsrat ketika masyarakat Modoinding, Passi Timur dan Dumoga punya masalah besar dengan Hortikultura dan padi?
“Jadi kedepan, kami berharap Unsrat dapat melibatkan diri secara nyata sesuai dengan fungsi lembaga tersebut yakni penilitian dan pengabdian untuk membantu petani dalam menyelesaikan persoalan-persoalan petani, misalnya harga pupuk mahal, sekarung harganya 150 ribu dan bahkan sampai diangka 250 ribu ditambah pupuk ini tidak ada,” Katanya.
Jadi, lanjut Politisi PDIP ini bahwa di Unsrat banyak sekali Profesor yang pintar-pintar. Yang bisa membantu petani.
“Yang saya juga tahu di Unsrat banyak sekali dana pendidikan dan penelitian yang pemerintah berikan. Mungkin saja Unsrat melakukan penelitian dan pengabdian hanya di segi sosial dan ekonomi. Kalau juga kita bicara ilmu ekonomi, Unsrat tidak pernah terlibat langsung kok, dengan bagaimana managemen BumDes yang bagus di kampung-kampung,” Kata Tuuk.
“Atau pula bagaimana Unsrat melakukan sosialisasi terkait hukum, katakanlah dana desa misalnya, mana yang menjadi hak-hak dan kewajiban rakyat dari pemerintah desa terkait dengan dana desa yang sampai hari ini saya sebagai anggota DPRD Sulut melihat terjadi polemik dimana-mana, mau melapor tapi ditakut-takuti. Dimana fungsi kepolisian disini, dimana fungsi Inspektorat, Unsrat kan harus melakukan penelitian disitu tapi sampai hari ini tidak ada. Mungkin Unsrat melakukan penelitian tapi tidak terekspos,” Tambah Legislator Dapil BMR.
Tak hanya itu, Jems Tuuk juga menuturkan bahwa Unsrat dengan Fakultas Tekniknya bisa turun di kampung-kampung, dengan dana desa yang banyak sekali dan dia membuat proyek, kan bisa membantu. Tapi hari ini juga fakultas teknik tidak pernah mendorong, otomatis ini datang dari Rektor yang ada.
Melihat itu, dirinya sebagai Anggota DPRD Sulut sekaligus sebagai direktur LSM P3N Sulut meminta peran Unsrat harus nyata guna membantu persoalan-persoalan kerakyatan, persoalan-persoalan petani yang Hortikultura termasuk kelangkaan pupuk, kan pupuk organik bisa dilakukan dan kemudian menurunnya produksi padi yang ada di Dumoga dikarenakan hama penyakit terjadi dimana-mana.
“Pestisida naik gila-gilaan. Petani tidak punya solusi, ini merupakan lonceng kematian kepada petani tetapi Unsrat yang menjadi andalan kita ini tidur. Oleh sebab itu saya menghimbau para guru besar, dosen-dosen kami yang hebat-hebat, tiru lah UGM yang berbaur dengan petani Mahasiswa dan mahasiswa mereka bagus-bagus dan hebat-hebat. Saya yakin uang dari negara yang diberikan ke Unsrat itu banyak, pakailah dana itu,” Pungkasnya.
“Saya juga meminta kepada Profesor Ellen Kumaat sebagai Rektor Unsrat untuk menggerakkan Civitas Akademika Universitas Sam Ratulangi terpanggil untuk pengabdian kepada masyarakat Sulut,” Tambahnya.
(ABL)










