Lagi, Listrik Padam di Hari Besar! Warga Watutumou Soroti Pemadaman Saat Paskah

 

Petasulut.com, MINAHASA UTARA – Sukacita perayaan Hari Raya Paskah di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, kembali ternoda akibat pemadaman listrik yang berlangsung berjam-jam, Minggu (5/4/2026).

Sejak siang hari, aliran listrik di wilayah tersebut dilaporkan padam dan belum juga kembali normal hingga malam hari. Kondisi ini memicu keluhan warga karena mengganggu aktivitas ibadah dan kebersamaan keluarga di momen sakral Paskah.

Berdasarkan pantauan warga, pemadaman listrik terjadi selama kurang lebih enam jam. Akibatnya, suasana yang seharusnya dipenuhi sukacita berubah menjadi penuh kekecewaan.

“Harusnya ini jadi hari yang penuh kebahagiaan, tapi justru terganggu karena listrik padam. Sangat disayangkan,” ujar Rina, salah satu warga Desa Watutumou.

Kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Warga mengingatkan bahwa peristiwa serupa juga terjadi saat perayaan Natal pada 25 Desember 2025 lalu.

Saat itu, listrik di wilayah Watutumou, Maumbi, dan sekitarnya padam sejak pukul 12.30 WITA hingga malam hari. Bahkan hingga lebih dari delapan jam, aliran listrik belum juga kembali menyala.

Akibatnya, warga terpaksa merayakan Natal dalam kondisi gelap, hanya mengandalkan cahaya lilin sebagai penerangan. Jalanan pun tampak sepi tanpa lampu, mengurangi suasana hangat yang biasanya hadir di hari raya.

Berulangnya pemadaman listrik di hari besar keagamaan memunculkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Warga menilai, kejadian ini tidak bisa lagi dianggap sekadar gangguan teknis biasa.

Menurut mereka, dibutuhkan perhatian dan langkah antisipatif yang lebih serius dari pihak penyedia layanan listrik agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Masyarakat berharap ada peningkatan kualitas pelayanan, terutama pada momen penting seperti Natal dan Paskah yang menjadi waktu sakral untuk beribadah dan berkumpul bersama keluarga.

Bagi warga, hari raya keagamaan bukan hanya soal seremoni, tetapi juga momen mempererat kebersamaan dalam suasana yang nyaman dan penuh terang.

Namun, tanpa dukungan listrik yang memadai, makna tersebut terasa berkurang. Warga berharap ke depan tidak lagi mengalami kondisi serupa, sehingga setiap perayaan keagamaan dapat berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *