Petasulut.com, MINAHASA UTARA – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan identitas budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Salah satu langkah konkret yang kini dilakukan adalah upaya revitalisasi bahasa daerah Tonsea melalui dunia pendidikan.
Melalui Dinas Pendidikan Minahasa Utara, pemerintah daerah berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Utama Perlindungan Bahasa Daerah Tonsea yang berlangsung di Senta Hotel, Rabu (29/04/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 42 peserta yang terdiri dari 21 guru Sekolah Dasar (SD) dan 21 guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai wilayah di Kabupaten Minahasa Utara.
Bimtek dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Minahasa Utara, Jofieta Supit, didampingi Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi.
Dalam sambutannya, Jofieta Supit menegaskan bahwa Bahasa Tonsea merupakan salah satu kekayaan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas yang sangat penting bagi masyarakat Minahasa Utara.
Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa keberadaan bahasa daerah kini menghadapi tantangan serius akibat semakin berkurangnya penutur dari kalangan generasi muda.
“Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas kultural dan jati diri masyarakat. Saat ini Bahasa Tonsea menghadapi tantangan besar karena generasi muda lebih akrab dengan pengaruh globalisasi dibanding bahasa ibu mereka sendiri,” ujar Jofieta.
Menurutnya, revitalisasi bahasa daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui pendokumentasian, tetapi harus menjadi gerakan aktif agar Bahasa Tonsea tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, para guru yang mengikuti Bimtek tersebut diharapkan menjadi motor penggerak dalam memperkenalkan kembali Bahasa Tonsea kepada para siswa di sekolah masing-masing.
“Kami berharap bapak dan ibu guru dapat mengajarkan bahasa daerah dengan cara yang inovatif, menyenangkan, dan relevan dengan dunia anak-anak serta generasi muda saat ini,” tambahnya.
Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional yang cenderung teoritis, Bimtek ini mengusung pendekatan kreatif berbasis seni dan budaya agar lebih menarik dan mudah diterapkan di lingkungan sekolah.
Peserta mendapatkan berbagai materi pelatihan, mulai dari penulisan puisi, dongeng, dan cerita pendek berbahasa Tonsea, hingga seni pertunjukan seperti pidato, tembang daerah, bahkan stand-up comedy menggunakan bahasa daerah.
Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk membangun rasa cinta generasi muda terhadap bahasa ibu tanpa menghadirkan kesan pembelajaran yang kaku dan membosankan.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam mendukung program revitalisasi bahasa daerah.
Menurutnya, pelestarian bahasa lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kekayaan budaya bangsa di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
“Bahasa daerah adalah warisan budaya yang harus terus hidup. Kalau tidak dijaga bersama, kita bisa kehilangan identitas budaya di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, para peserta Bimtek mengaku antusias mengikuti pelatihan tersebut karena dinilai memberikan pengalaman baru dalam metode pembelajaran bahasa daerah yang lebih kreatif dan aplikatif.
Dinas Pendidikan Minahasa Utara berharap program ini dapat melahirkan inovasi baru dalam pengajaran Bahasa Tonsea di sekolah, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.










