Petasulut.com, GORONTALO – Kehadiran Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, dalam Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di GOR David-Tony, Kabupaten Gorontalo, Rabu (24/6/2026), tidak hanya menarik perhatian karena kapasitasnya sebagai kepala daerah. Sikap sederhana dan kedekatannya dengan masyarakat justru menjadi momen yang paling mencuri perhatian sepanjang kegiatan berlangsung.
Di tengah ribuan peserta yang memadati lokasi acara nasional tersebut, Gubernur Yulius Selvanus tampak tak canggung berbaur dengan masyarakat. Peserta yang mengenali sosok orang nomor satu di Sulawesi Utara itu langsung berbondong-bondong mendekat untuk sekadar berjabat tangan, menyampaikan salam, hingga meminta swafoto bersama.
Alih-alih menjaga jarak, Gubernur Yulius Selvanus justru menyambut antusiasme masyarakat dengan senyum hangat dan sapaan akrab. Satu per satu warga dilayani dengan penuh kesabaran.
Suasana pun terasa begitu cair dan penuh keakraban. Di berbagai sudut lokasi kegiatan, masyarakat terlihat antusias mengabadikan momen bersama Gubernur YSK.
Bagi banyak warga, sikap seperti itu menjadi gambaran nyata seorang pemimpin yang tidak membatasi dirinya dari rakyat. Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat bukan hanya untuk menghadiri acara seremonial, tetapi juga membangun kedekatan emosional yang menghadirkan rasa memiliki dan kebersamaan.
Di sela-sela agenda PENAS XVII, Gubernur Yulius Selvanus terus menunjukkan sikap ramah dan terbuka kepada siapa saja yang menghampirinya. Tidak ada sekat antara pemimpin dan masyarakat. Sapaan hangat, senyuman, serta kesediaannya melayani permintaan foto bersama menjadi pemandangan yang berulang kali terlihat saat kegiatan berlangsung.
Banyak peserta mengaku terkesan dengan kerendahan hati Gubernur Sulut tersebut. Di tengah padatnya agenda dan pengawalan yang melekat, YSK tetap meluangkan waktu untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat yang ingin menyapa ataupun sekadar mengabadikan momen.
Sikap humanis yang ditunjukkan Yulius Selvanus menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan dan program pembangunan, tetapi juga dari kemampuan seorang pemimpin untuk hadir, mendengar, dan dekat dengan rakyatnya.
(ABL)










