Petasulut.com, SULUT – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diketahui telah mengeluarkan program ‘Merdeka Belajar’.
Program ini dinilai cara ampuh mengatasi pembelajaran siswa ditengah pandemi covid-19. Dimana pembelajaran mengedepankan sistem digitalisasi mempermudah peserta didik untuk belajar.
Mengenai itu, Anggota DPRD Sulut Winsulangi Salindeho buka suara. Dimana, ia menilai Spirit itu harus direalisasi paling terutama di wilayah kepulauan. Masalah fasilitas yang belum memadai jadi penyebab.
Dirinya dengan tegas mengingatkan tentang betapa pentingnya penyediaan fasilitas menunjang pendidikan di Nusa Utara.
Hal tersebut sangat terasa terutama di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
“Terkait Merdeka Belajar di daerah kepulauan, sekarang era pandemi. Semua belajar mengajar dibuat digitalisasi, yang kini banyak sekali hambatan bagi anak-anak di kepulauan,” ungkap Salindeho, Jumat (7/5), di ruang kerjanya.
Persoalannya di daerah kepulauan sangat susah listrik dan tidak ada signal. Kemudian jarak antara daerah satu ke daerah yang lain sangatlah jauh. Ini dinilai sangat menyulitkan para siswa.
“Pemerintah berikan himbauan lewat dana BOS (bantuan operasional sekolah) berikan pulsa bagi siswa. Tapi buat apa kase pulsa kalau nda ada signal,” tegasnya.
Dengan demikian menurutnya, perwujudan Merdeka Belajar ini, khususnya daerah kepulauan perlu dikeroyok bersama. Semua stakeholder harus terlibat mengupayakan ketersediaan fasilitas bagi kelancaran pendidikan.
“Jadi Merdeka Belajar ini harus dikeroyok bersama. Jangan hanya dimonopoli kemendikbud. Harus libatkan juga seperti PLN (Perusahaan Listrik Negara), Telkomsel dan lainnya,” ungkap politisi Partai Golongan Karya ini.
Selanjutnya bagi dia, program Merdeka Belajar ini berarti Kemendikbud memberikan kesempatan belajar kepada anak-anak ini untuk memilih sesuai dengan kemampuannya.
“Jadi memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memilih dia belajar apa, tidak lagi tergantung kepada angka. Angkanya di matematika cuma dapat 6, tapi pelajaran yang lain mungkin bagus. Jadi ditentukan oleh bakat dari anak. Tapi kadang tidak matching dengan kemauan orang tua. Orang tua sering memaksakan apa yang mereka inginkan ke anak,” kuncinya.
(ABL)










