Smart Digital Interactive Laboratory Berbasis Augmented Reality Hadir di SMAS Kristen Sonder: Dorong Transformasi Literasi Sosiosaintifik

 

Petasulut.com, SONDER – Sebuah inovasi pendidikan berbasis teknologi lahir di Kabupaten Minahasa. Tim dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Smart Digital Interactive Laboratory Berbasis AR dan AI: Transformasi Literasi Sosiosaintifik dalam Pembelajaran Kimia” di SMAS Kristen Sonder, Kelurahan Talikuran, Kecamatan Sonder.

Kegiatan yang dilaksanakan adalah Program Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Masyarakat dan Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat pendanaan Tahun 2025 oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.

Tim Pelaksana terdiri dari Kartyka Nababan, S. Pd., Gr., M. Pd sebagai Ketua Tim, dan anggota tim yaitu Dina Mariana Siregar, S. Pd., M. Psi dosen yang bekerja di lingkungan Universitas Negeri Manado serta Victor Tarigan, S.Kom, M.Kom. dosen yang berasal dari Universitas Samratulangi.

Selain itu, kegiatan ini terdapat tiga mahasiswa dari Universitas Negeri Manado yang turut serta dalam tim pelaksana PKM ini.

Pelatihan Penggunaan Smart-DIL

Sosialisasi dan Proses Kegiatan
Kegiatan diawali dengan sosialisasi yang dihadiri kepala sekolah Paulus August Mawuntu, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Adrian Kalalo, S.Pd., guru kimia Yolanda Limbat dan Rati Rius, serta para siswa kelas XI dan XII peminatan IPA.

Ketua tim pelaksana, Kartyka Nababan, menjelaskan bahwa program ini hadir untuk menjawab keterbatasan laboratorium fisik di sekolah sekaligus meningkatkan literasi sains siswa melalui teknologi digital.

“Laboratorium digital interaktif ini memanfaatkan Augmented Reality (AR) dan kecerdasan buatan (AI), sehingga siswa dapat berinteraksi langsung dengan objek kimia secara visual dan dinamis meski tanpa fasilitas laboratorium lengkap,” ungkap Kartyka dalam pemaparan sosialisasi.

Sosialisasi dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan perangkat Aplikasi Smart Digital Laboratory yang dikembangkan oleh Tim Pelaksana. Mahasiswa anggota tim dengan pendampingan dosen, memandu sesi praktik yang melibatkan guru dan siswa.

Para peserta diperkenalkan pada fitur-fitur utama aplikasi, mulai dari simulasi reaksi kimia berbasis AR, sistem evaluasi otomatis dengan AI, hingga modul literasi sosiosaintifik yang mendorong siswa berpikir kritis terhadap isu lingkungan sekitar.

Selama beberapa bulan, tim melaksanakan pendampingan intensif. Guru kimia turut dilatih agar mampu mengintegrasikan Smart-DIL ke dalam RPP dan pembelajaran kelas.

Sementara siswa mencoba langsung aplikasi untuk memecahkan masalah berbasis fenomena nyata, seperti pencemaran air dan limbah rumah tangga, yang divisualisasikan melalui AR.

Proses Pembuatan Ecoenzim oleh Tim PKM bersama siswa SMAK Sonder

Karakteristik dan Kegunaan Produk
Produk Smart Digital Interactive Laboratory (Smart-DIL) dirancang sebagai laboratorium mini berbasis digital dengan beberapa keunggulan:

1. Berbasis AR (Augmented Reality): Memberikan visualisasi tiga dimensi reaksi dan struktur kimia yang sulit diamati langsung.

2. Dilengkapi AI (Artificial Intelligence): AI digunakan untuk memberikan umpan balik otomatis, analisis kesalahan siswa, serta rekomendasi materi lanjutan.

3. Interaktif dan Kontekstual: Mengaitkan konsep kimia dengan isu sosiosaintifik di masyarakat, sehingga pembelajaran lebih relevan.

4. Aksesibel: Dapat digunakan melalui smartphone, sehingga fleksibel di sekolah dengan fasilitas terbatas.

Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai pengganti laboratorium fisik, tetapi juga sebagai media yang memperluas cara guru dan siswa memahami kimia. Guru dapat memanfaatkan aplikasi untuk pembelajaran berbasis proyek, sementara siswa merasakan pengalaman eksperimen tanpa khawatir keterbatasan alat dan bahan.

Aplikasi Smart-DIL oleh siswa dalam Pembelajaran

Testimoni dari Mitra
Kepala sekolah Paulus August Mawuntu, S.Pd., menyambut baik inovasi ini.

“Bagi sekolah kami di Sonder, keterbatasan laboratorium sering menjadi kendala. Kehadiran Smart-DIL benar-benar menjawab kebutuhan ini. Kami merasa lebih percaya diri bahwa siswa kami bisa belajar kimia dengan cara yang lebih modern,” ujarnya.

Sementara itu, guru kimia Yolanda Limbat menyampaikan kesan positif setelah mencoba aplikasi bersama siswanya.

“Biasanya siswa kesulitan memahami reaksi kimia hanya lewat buku teks. Dengan Smart-DIL, mereka bisa langsung melihat visualisasinya. Anak-anak jadi lebih semangat belajar,” katanya.

Salah seorang siswa kelas XI, menyatakan pengalamannya, “Awalnya saya pikir belajar reaksi itu susah. Tapi lewat aplikasi ini, saya bisa memutar objek molekul dan melihat proses reaksinya. Rasanya seperti main game, tapi sekaligus belajar,”

Penutup
Program Smart-DIL ini tidak berhenti pada implementasi awal. Tim dosen Unima berkomitmen melakukan pendampingan lanjutan, termasuk monitoring penggunaan aplikasi, evaluasi keberhasilan, dan pengembangan fitur tambahan sesuai kebutuhan sekolah.

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan pemerintah, inovasi seperti Smart-DIL diharapkan menjadi titik awal transformasi pembelajaran sains di wilayah 3T, termasuk Minahasa. Program ini membuktikan bahwa keterbatasan sarana bukan lagi penghalang untuk menghadirkan pembelajaran berkualitas berbasis teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *