Petasulut.com, SULAWESI UTARA — Suasana hening dan penuh kekhusyukan kembali mewarnai Ruang Paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Utara pada Senin (16/11/2025). Setiap awal pekan, pimpinan dan anggota DPRD Sulut yang beragama Nasrani rutin menggelar ibadah bersama, sebuah tradisi yang terus dijaga sebagai bagian dari pembinaan rohani di lembaga legislatif tersebut.
Ibadah pagi itu diawali dengan penyampaian firman oleh Pdt. Brandon Koloway. Usai firman, Ketua DPRD Sulut, Fransiskus Andi Silangen, turut memberikan sambutan kerohanian yang sarat pesan spiritual bagi seluruh jemaat yang hadir.
“Tuhan itu setia, karena Ia tidak pernah menyangkal diri-Nya. Kita telah ditebus dengan darah yang mahal,” ujar Silangen mengawali renungannya.
Ia menegaskan bahwa kasih Tuhan selalu mendahului kasih manusia. “Ketika kita mengasihi Tuhan, Ia juga mengasihi kita. Karena kasih-Nya, kita dapat menjadi seperti sekarang ini,” katanya.
Silangen juga mengingatkan bahwa pergumulan orang percaya tidak semata-mata melawan sesama manusia. Mengutip Efesus 6:12, ia menyampaikan bahwa perjuangan rohani justru melawan “kuasa-kuasa kegelapan, pemerintah-pemerintah dan penguasa dunia yang gelap.”
Menanggapi pernyataan anggota DPRD Sulut, Royke Anter, dalam ibadah tersebut, Silangen menekankan pentingnya menjaga perkataan. “Benar yang disampaikan Pak Roy. Jangan menjadi iblis. Sebab hidup dan mati dikuasai oleh lidah,” katanya, merujuk pada peringatan kitab Amsal.
Ia kemudian mengajak jemaat untuk menjalani kehidupan yang tidak serupa dengan dunia, melainkan mengalami pembaharuan budi. Menurutnya, hubungan dengan Tuhan menuntut prioritas dan kedekatan yang konsisten. “Jika kita memprioritaskan Tuhan, harus ada intensitas dalam hubungan itu. Dan setelah ada intensitas, barulah muncul kualitas,” jelasnya.
Dalam renungannya, Silangen juga mengutip Mazmur 90:10 tentang singkatnya umur manusia, yang rata-rata hanya 70 hingga 80 tahun. Pesan itu ia gunakan untuk mengingatkan jemaat bahwa hidup di dunia bersifat sementara, dan karena itu setiap orang percaya harus sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan.
“Tuhan tidak menginginkan manusia binasa. Ia ingin kita semua berbalik dan bertobat,” tutupnya.
(ABL)










