Kreatif! GMPA Panthera Pardus dan KMPA Tansa Sulap Puntung Rokok Jadi Karya Seni Bernilai Ekonomi

 

Petasulut.com, MANADO – Kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui berbagai cara kreatif. Salah satunya dengan mengolah limbah puntung rokok menjadi karya seni bernilai ekonomi. Hal inilah yang dilakukan GMPA Panthera Pardus bersama KMPA Tansa melalui kegiatan pelatihan kerajinan puntung rokok yang digelar di Sekretariat KMPA Tansa, Lorong Impres Politeknik, Kairagi II, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Jumat (6/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, pengrajin sekaligus aktivis lingkungan, IIN Samiadji, bertindak sebagai tutor yang membimbing peserta dalam mengolah puntung rokok menjadi produk kerajinan.

Sebelum memulai praktik, anggota KMPA Tunas Hijau itu terlebih dahulu berbagi pengalaman mengenai aksi dan kreativitasnya memanfaatkan puntung rokok sebagai media edukasi lingkungan.

“Saat ini kita akan berkarya dari puntung rokok. Selama ini, yang kita ketahui, setiap ada kegiatan lingkungan atau bersih-bersih pantai, puntung rokok sering kali diabaikan karena bentuknya kecil, imut dan sebagainya,” ungkap Iin.

Menurutnya, meskipun berukuran kecil, puntung rokok ternyata menyimpan bahaya dan dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.

“Rokok memiliki banyak kandungan limbah bahan beracun, seperti ribuan bahan kimia berbahaya, logam berat, serta plastik yang bisa menyebabkan pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Ia mengatakan, ukuran puntung rokok yang kecil membuat banyak orang kurang memperhatikan keberadaannya. Karena itu, dirinya berupaya mengampanyekan bahaya limbah tersebut melalui pendekatan seni dan kreativitas.

“Kebetulan teman-teman mau belajar. Saya sendiri bukan perokok dan tidak merokok di mana pun. Hanya saja, puntung rokok yang dihasilkan oleh teman-teman di sekretariat sering saya kumpulkan. Saya menjadi pemulungnya untuk kemudian diolah sebagai bahan edukasi,” tuturnya.

Ia juga mengaku prihatin dengan perilaku sebagian orang yang mengaku sebagai pencinta alam, tetapi masih mengabaikan persoalan lingkungan yang dianggap sepele, seperti sampah puntung rokok.

Hal tersebut, lanjutnya, harus menjadi teguran bagi semua pihak, khususnya mereka yang tergabung dalam komunitas pencinta alam. Sebab, kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak hanya muncul ketika ada kegiatan atau agenda tertentu.

“Selama ini, ketika ada kegiatan lingkungan, barulah terlihat kepedulian terhadap lingkungan. Namun, setelah kembali bergaul dengan orang lain yang bukan dari dunia pencinta alam, termasuk masyarakat umum, akhirnya kita semua bisa menjadi seperti mereka. Artinya, kita harus mampu memberikan dampak yang baik bagi lingkungan itu sendiri,” terangnya.

Sementara itu, Ketua GMPA Panthera Pardus, Aldi Sinatrya, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa limbah berukuran kecil sekalipun dapat menimbulkan dampak ekologis yang besar.

Menurutnya, pelatihan ini juga menjadi implementasi prinsip upcycling, yakni mengubah limbah berbahaya menjadi karya seni yang memiliki nilai ekonomi. Selain itu, kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi antarorganisasi pencinta alam di Sulawesi Utara dalam membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan.

“Pelatihan ini tidak hanya sekadar membuat kerajinan, tetapi juga berbasis edukasi ilmiah dan praktik. Kegiatannya melewati beberapa tahapan, mulai dari pemaparan mengenai karakteristik limbah puntung rokok, dampaknya terhadap ekosistem, hingga pengenalan konsep ekonomi sirkular,” jelasnya.

Tahapan berikutnya berkaitan dengan teknik pengolahan. Para peserta diajarkan cara mengumpulkan, mensterilkan, dan memilah puntung rokok agar aman untuk diolah, mengingat limbah tersebut termasuk limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Selanjutnya dilanjutkan dengan praktik kreasi. Peserta langsung membuat produk kerajinan berupa lukisan dari filter rokok yang telah diolah bersama tutor. Berikutnya, ada diskusi dan rencana tindak lanjut melalui sesi berbagi gagasan mengenai pengembangan produk agar memiliki nilai jual serta dapat menjadi program rutin dalam gerakan membersihkan sampah puntung rokok,” imbuhnya.

Melalui kegiatan ini, GMPA Panthera Pardus dan KMPA Tansa berharap kesadaran terhadap bahaya limbah puntung rokok semakin meningkat. Lebih dari sekadar menghasilkan karya seni, pelatihan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong lahirnya gerakan kreatif dan berkelanjutan di kalangan komunitas pencinta alam.

Sementara itu, perwakilan KMPA Tansa, Prastika Kardiana Kansil, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam kegiatan pelatihan kerajinan berbahan puntung rokok tersebut.

Ia secara khusus mengapresiasi Iin Samiadji yang telah berbagi pengetahuan, mulai dari penyampaian materi hingga pendampingan dalam proses praktik bersama para peserta.

“Terima kasih kepada Kak Iin Samiadji yang sudah membantu membagikan pengetahuan, hingga mendampingi kami dalam proses praktik,” ucapnya.

Prastika juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, di antaranya KPA Silvaterra, KPAB Chiroptera, KPAB Tunas Baru, Mapala Bumi IAIN Manado, GMPA Panthera Pardus, serta KMPA Tansa.

“Terima kasih sekali lagi kepada semua pihak yang telah hadir. Kiranya kebersamaan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus terjalin dan berkelanjutan. Salam Lestari,” pungkasnya.

(ABL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *