Tragedi Kebakaran Panti Werdha Manado, Sulawesi Utara Disorot, Pengamat: Ini “Bencana Nasional”

Petasulut.com, Manado – Kebakaran hebat yang melanda Panti Werdha Damai di Kelurahan Ranomuut, Kota Manado, Sulawesi Utara, Minggu (28/12/2025) malam, menyisakan duka mendalam. Tragedi kemanusiaan tersebut menewaskan belasan penghuni panti lanjut usia dan menjadi perhatian serius berbagai kalangan, termasuk pengamat politik dan pemerintahan Sulut, Taufik Tumbelaka.

Taufik Tumbelaka menilai peristiwa memilukan ini tidak sekadar tragedi lokal, melainkan sudah masuk kategori ‘bencana nasional’. Ia membandingkan peristiwa tersebut dengan sejumlah musibah serupa yang pernah terjadi di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh.

“Ini adalah bencana nasional. Kejadiannya sangat memukul rasa kemanusiaan kita semua,” ujar Taufik.

Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dapat menaruh perhatian serius terhadap musibah tersebut. Ia secara khusus mendorong Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay untuk mengambil langkah-langkah nyata, baik dalam penanganan korban maupun tindak lanjut kebijakan ke depan.

Menurut Taufik, tragedi kebakaran Panti Werdha Damai harus menjadi momentum refleksi bersama. Ia mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk menunjukkan empati dan solidaritas, termasuk dengan merayakan pergantian Tahun Baru 2026 secara sederhana sebagai bentuk rasa sepenanggungan atas duka yang terjadi.

“Pemprov Sulut kiranya dapat mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh masyarakat, agar perayaan tahun baru dilakukan secara sederhana dan penuh keprihatinan,” ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, kobaran api hebat meluluhlantakkan Panti Werdha Damai pada Minggu malam. Tragedi tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang penghuni panti, sementara tiga korban lainnya mengalami luka bakar serius dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Api yang membesar dengan cepat membuat para penghuni panti, yang mayoritas lanjut usia, tidak sempat menyelamatkan diri. Peristiwa ini sontak menggemparkan warga sekitar yang berupaya memberikan pertolongan seadanya sebelum petugas tiba di lokasi.

Sekretaris Daerah Kota Manado, Steaven Dandel, mengungkapkan bahwa laporan kebakaran diterima pada pukul 20.31 WITA. Berdasarkan estimasi awal, api diduga sudah berkobar sekitar lima hingga sepuluh menit sebelum laporan masuk ke Dinas Pemadam Kebakaran.

“Begitu menerima panggilan darurat, tim pemadam kebakaran langsung diterjunkan ke lokasi,” ujar Dandel.

Sebanyak lima unit mobil pemadam kebakaran dengan sekitar 25 personel dikerahkan untuk mengendalikan api. Kobaran api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.20 WITA, meski proses evakuasi sempat terkendala akibat beberapa titik api yang kembali menyala serta kondisi bangunan yang telah rapuh.

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan aparat berwenang. Keterangan awal dari sejumlah saksi menyebutkan api diduga berasal dari area dapur, namun hal tersebut belum dapat dipastikan.

“Semua masih dalam tahap pendalaman. Kami belum bisa menyimpulkan penyebab kebakaran,” tegas Dandel.

Dari hasil evakuasi sementara, petugas menemukan 16 jenazah korban di dalam bangunan panti. Sementara itu, tiga korban luka bakar masing-masing dua orang dirawat di RSUD Kota Manado dan satu korban lainnya dirujuk ke RS Awaloei. Tragedi ini menjadi duka bersama sekaligus pengingat pentingnya perhatian serius terhadap keselamatan fasilitas sosial, khususnya yang menampung kelompok rentan seperti lanjut usia.

(ABL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *