Oleh: DR Jerry Massie SE, MA, D.MIn, PhD (Direktur Political and Public Policy Studies_(P3S)
Tamparan keras buat pendidikan Sulawesi Utara (Sulut) dimana Plt Rektor yakni Prof Jamaluddin Jampa bukan berasal dari daerah ini tapi dari Sulsel.
Ini menandakan SDM di Sulawesi Utara mulai diragukan dan tak dianggap, pasalnya Plt Rektor yang baru justru bukan dan civitas akademika Unsrat sendiri.
Saya kira ini membuka mata kita bahwa kualitas para dosen atau guru besar kita sangat tidak berkompeten.
Bagaimana tidak, sejak berdiri 14 September 1965 sampai kini posisi Unsrat sampai kampus ini berdiri tak pernah menembus 20 besar kampus terbaik di Indonesia. Padahal daerah ini gudangnya kaum cendikiawan mulai tokoh penting bangsa Indonesia yakni DR Sam Rratulangi, Menteri Keuangan ke-2 AA Maramis, Utusan PBB LN Palar dan JD Massie 3 kali menjabat Menteri di Era Soekarno sampai Arnold Mononutu.
Berbeda, kalau dulu orang Manado yang jadi Rektor Unhas yakni Prof. Mr. Arnold Mononutu adalah tokoh kelahiran Manado yang pernah menjabat sebagai Rektor ke-3 Universitas Hasanuddin (UNHAS).
Barangkali ini warning bagi Tou Kawanua bahwa SDM kita mulai diragukan.
Ingat dibawah kepemimpinan Rektor Prof Jamaludin Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil menembus posisi 10 besar nasional sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia berdasarkan berbagai lembaga pemeringkatan global terbaru tahun 2026.
Selain membawa Unhas masuk 10 besar kampus terbaik di Indonesia, kampus ini juga meraih peringkat 1 H-Index Scopus mengalahkan universitas ternama Indonesia ada UGM, IPB, ITB sampai UI.
Ke depan Unsrat harus terus mengembangkan lewat learning system, metodology and research, lecturer exhange, study and research abroad, Write in international journals, Appeared on national TV, Scientific works are published in mainstream media dan become a national resource person.
Harusnya muncul pemikir handal di Unsrat dan membawa kampus ini terbang tinggi masuk 10 besar Indonesia.
Menurut ranking yang dikekuarkan Webometric Unsrat 2026 ini berada pada peringkat 31 dan ini masih jauh dari ekspektasi warga Sulut.
Memang sejauh ini pemilihan rektor di Unsrat kental dengan unsur politis bukan expert and based competence tapi unsur kedekatan. Itu perlu dirubah agar Unsrat bisa berjaya. Dan rektor kedepan tak mampu bawa Unsrat masuk 20 besar kampus terbaik di Indonesia maka harus mundur.
Tapi sisi positifnya, bisa saja rektor yang baru ini mengangkat ranking Unsrat masuk 20 besar.
(ABL)










